jump to navigation

Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan June 24, 2009

Posted by asepsbg in Pendidikan.
trackback
A. Pendahuluan

Usia pendidikan sama tuanya dengan usia kebudayaan manusia. Pendidikan telah mulai dilaksanakan semenjak manusia hadir di muka bumi. Pada mulanya, tujuan pendidikan hanyalah sekadar mempersiapkan generasi muda untuk bisa survive di tengah masyarakat luas. Karena itu, bentuknya adalah berupa mewariskan wawasan, pengetahuan, dan ketrampilan yang diperlukan untuk survival kepada generasi berikutnya. Masa ini, peran pendidik dilaksanakan sendiri oleh orangtua.

Kemudian, peradaban umat manusia terus mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Sejalan dengan itu, mau tidak mau pendidikan mesti mengikuti arus tersebut. Dan ia pun mengalami penyempurnaan-penyempurnaan, baik isi, bentuk, maupun pelembagaan penyelenggaraannya.

Kalau pada mulanya pendidikan dilakukan sendiri oleh para orangtua dengan cara yang tidak sistematis, maka seiring dengan tuntutan perkembangan zaman, pola pendidikan mengalami pergeseran. Pola pendidikan mulai disistematisasikan, dalam bentuk magang atau nyantrik. Pada saat itu, paradigma pendidikan mulai mengalami pergeseran. Yang sebelumnya berada di tangan orangtua, kini mulai diserahkan kepada orang lain yang dianggap lebih memiliki kompetensi. Tapi,pola pendidikan ini masih bersifat individual.

Namun, karena bertambahnya jumlah penduduk dan semakin beraneka-ragamnya macam pekerjaan, bentuk magang itu pun dirasa kurang memadai. Maka, kemudian muncullah kelembagaan yang sekarang dikenal dengan nama sekolah, yang salah satu karakteristiknya adalah dilakukan dengan sistem klassikal.

Jika disimak, misi pendidikan pada masa-masa awal adalah mempersiapkan generasi muda untuk dapat hidup di masyarakat sesuai dengan pengetahuan, nilai, tradisi, maupun budaya yang berlaku saat itu. Hal ini mengandaikan bahwa pengetahuan, nilai, tradisi, maupun budaya tersebut merupakan sesuatu yang relatif statis. Pendidikan dianggap berhasil bilamana individu-individu memiliki seperangkat pengetahuan, ketrampilan, nilai-nilai yang sesuai dengan yang berlaku di masyarakat.pada masa itu. Dalam konteks demikian, pendidikan dipahami sebagai memberi bekal wawasan, pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai yang berguna bagi individu untuk hidup di tengah masyarakat. Karakteristik dari pola ini, subjek didik diasumsikan sebagai sesuatu yang pasif. Pendidik, yang diasumsikan sebagai “maha tahu” segala hal, mentransfer pengetahuannya tersebut kepada peserta didiknya. Peserta didik ini “wajib” menerimanya tanpa punya daya apa-apa.

Faham demikian sempat sangat dominan, sehingga sisa-sisanya masih terasa hingga detik ini. Akibatnya, setiap pembaharuan di bidang pendidikan hanya diartikan sebgai pembaharuan isi kurikulum : dikurangi, diganti, diubah urutannya, atau ditambah. Dan fenomena terakhir merupakan yang paling sering terjadi, sehingga peserta didik nyaris tak kuasa lagi memikul beban yang terus menggunung tersebut. Perbaikan sistem penyampaiannya pun baru sebatas pada upaya peningkatan tehnologi. Yang justru sangat esensial nyaris tak terusik, yakni visi dan ciri hakiki hubungan pendidik-terdidik yang dikehendaki di dalam proses pendidikan. Akibatnya, meski barangkali out put-nya laku di pasar kerja, namun pendidikan ini tidak mampu melaksanakan fungsinya sebagai pusat pendidikan, yang salah satunya adalah mengembangkan segenap potensi peserta didik.

B. Tantangan Masa Depan

Abad ini disebut abad post modern, gelombang ke III, post industrial, atau abad informasi. Ciri utama abad ini adalah perkembangan iptek yang sangat berakselerasi. Sebagai gambaran, publikasi ilmiah sebagai hasil riset dan pengembangan di dalam tiga puluh tahun terakhir mengalami multiplikasi yang luar biasa, yang setiap 5-7 tahun, menunjukkan adanya ledakan informasi baru. Misalnya, 90% dari semua informasi ilmiah dan tehnologi di dunia telah dihasilkan di dalam abad 20 ini, 60% daripadanya diciptakan setelah Perang Dunia II. Sedangkan publikasi ilmiah dikeluarkan lebih dari 6 juta buah per tahun, atau 17.000 setiap hari. Perkembangan luar bisa ini diperumit lagi oleh semakin pendeknya jarak antara penemuan ilmiah dan penerapan industrialnya. Kalau dulu, menurut Dr. Soedjatmoko, jarak itu sekitar 20-30 tahun, sekarang ini beberapa tahun saja.

Fenomena di atas tentu akan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat, termasuk di dunia kerja. Artinya, perkembangan riset dan pengembangan iptek ini akan berpengaruh pada sifat kerja, tempat kerja, kemungkinan-kemungkinan karier, dan kualifikasi tenaga kerja. Hal ini mensyaratkan para tenaga kerja, selain menguasai ketrampilan-ketrampilan yang dituntut oleh profesianya, juga memiliki kemampuan menyerap , menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengatasi berbagai macam masalah, dan mengolah sejumlah besar informasi dengan cara yang logis dan multi-disipliner.

Substansi yang sangat esensial terkait dengan perkembangan tersebut adalah perlunya membekali mahasiswa dengan pendasaran epistemologikal dalam membangun intelektualitas mereka. Ilmu, filsafat, dan tehnologi merupakan cabang-cabang dari evolusi perkembangan pengetahuan manusia. Pada umumnya, sistem pendidikan kita belum menganggap penting faktor epistemologi sebagai fundamen pembangunan pengetahuan. Padahal, faktor ini sejak awal tumbuh sebagai bagian dari perkembangan masyarakat dan kebudayaan Eropa dan Amerika. Dari sana mereka mengembangkan sains dan tehnologi yang terkait dengan ekonomi dan industrialisasi sebagai kekuatan peradaban dunia dewasa ini.

Lalu, bagaimana dengan kita ? Dengan tanpa berpretensi merendahkan martabat bangsa sendiri, harus kita akui bahwa kita terbiasa mentransfer produk dari proses epistemologi tersebut, tanpa mau memahami karakteristik dasar serta proses epistemologi yang menjadi basis produk itu. Pada masa mendatang, kalau hal ini tidak segera kita sadari, barangkali tidak perlu ditangisi jika pada era pasar global kelak, tenaga-tenaga kerja kita akan tergilas habis oleh tenaga-tenaga kerja asing. Karena, pada masa mendatang, bidang sains dan industrial akan banyak diwarnai persoalan-persoalan baru yang menuntut pemecahan baru secara kreatif. Tanpa landasan epistemologi, mustahil hal itu bisa dicapai.

Untuk itu, ke depan, membangun perguruan tinggi harus disertai dengan memberikan input-input mengenai perkembangan epistemologi di dalam berbagai jenis disiplin. Karena, substansi dari pendidikan di perguruan tinggi adalah substansi yang bersifat epistemologikal : membangun kekuatan kualitas pemikiran, kekuatan penalaran, kualitas kecerdasan, serta kualitas pendalaman atas persoalan-persoalan aktual.

Memang, salah satu tugas lembaga pendidikan adalah mencetak tenaga-tenaga trampil alias siap pakai, jika faktor epistemologi diabaikan, maka tak lama lagi kita akan mendapati dengan hati gundah bahwa lulusan-lulusan kita akan dicap “kurang memadai” untuk diterjunkan di bursa dunia kerja. Output-output institusi kita barangkali akan gagap atau mengalami cultural shock menghadapi informasi dan penemuan-penemuan mutakhir di berbagai bidang disipli ilmu. Mereka akan mendapati ilmu pengetahuan yang mereka serap semasa kuliah sudah out of date.

Kalau sudah demikian, tentu tak lama lagi apresiasi masyarakat tentang institusi ini akan turun. Oleh sebab itu, pembenahan dan perubahan dalam segala segi, terutama tentang visi dan misi pengajaran yang kita lakukan, menjadi prasyarat mutlak bagi strategi survival of the fights kita dalam menghadapi berbagai macam tantangan di masa-masa mendatang.

1. Penemuan Ilmu Pengetahuan : Pendekatan Science

Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.

Melalui pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu pendidikan, dengan berbagai cabangnya, seperti: (1) sosiologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam pendidikan untuk mengkaji faktor-faktor sosial dalam pendidikan; (2) psikologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi untuk mengkaji perilaku dan perkembangan individu dalam belajar; (3) administrasi atau manajemen pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) teknologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sains dan teknologi untuk mengkaji aspek metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien; (5) evaluasi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa; (6) bimbingan dan konseling, suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari beberapa disiplin ilmu, seperti: sosiologi, teknologi dan terutama psikologi. Tentunya masih banyak cabang-cabang ilmu pendidikan lainnya yang terus semakin berkembang yang dihasilkan melalui berbagai kajian ilmiah.

2. Peran Pendidikan dalam Penemuan Ilmu Pengetahuan

Manusia merupakan mahluk hidup yang tertinggi derajatnya. Allah SWT telah menitahkan manusia menjadi khalifah di muka bumi karena ketinggian derajatmua itu. Setiap manusia dilahirkan ke muka bumi sesuai dengan fitrahnya, dapat diartikan dengan potensi dasar berupa bakat dan kemampuanya. Bakat dan kemamuan manusia yang berbeda-beda itulah yang kini dikenal dalam teori Howard Gardner dengan apa yang dikenal dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence). Manusia memang bersifat unik. Sama dengan cap jari yang mereka miliki, maka tidak pernah ada manusia yang sama antara satu dengan yang lainnya, meski mereka kembar sekalipun. Itulah sebabnya maka pendidikan seharusnya dimaknai sebagai upaya sadar untuk mengembangkan manusia sesuai dengan kecerdasannya, atau sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Hal itu sesuai dengan empat pilar pendidikan menurut UNESCO, yakni (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, dan (4) learning live together. Dengan demikian, maka pemdidikan akan menjadikan manusia untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan, menjadi dirinya sendiri sesuai dengan bakat dan kemampuannya, serta dapat hidup bersama dengan sesamanya.

Sebagaimana telah dikemukakan di muka, manusia tidak akan dapat menjadi manusia seutuhnya, jika tidak melalui proses pendidikan oleh manusia, dengan cara manusia, dan dalam suasana kemanusiaan. Education should be thought of as the process of man’s reciprocal adjustment to nature, to his fellows, and to the ultimate nature of the cosmos. Pendidikan harus difikirkan sebagai proses penyesuaian timbal balik manusia dengan alam, dengan manusia lain, dan akhirnya terhadap alam raya ini (Brubacher). Selaras dengan pendapat tersebut, pakar pendidikan lain memberikan penegaran bahwa ‘mendidik adalah memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju ke arah kedewasaan dalam arti dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab susila atas segala tindakannya menurut pilihannya sendiri’. Pakar pendidikan lain lagi juga menyatakan bahwa “mendidik ialah membantu anak supaya anak itu kelak cakap menyelesaikan tugas hidupnya atas tanggungan sendiri’ Pakar lainnya lagi menyatakan hal yang sama, ‘mendidik ialah membantu manusia dalam pertumbuhannya agar ia kelak mendapat kebahagiaan batin yang sedalam-dalamnya yang dapat tercapai olehnya dengan tidak mengganggu orang lain.

Berdasarkan pendapat para pakar tersebut, maka proses pendidikan terkait erat dengan proses kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu proses pendidikan tidak boleh tidak harus berlangsung secara manusiawi dengan proses yang memanusiakan (humanisasi), dan bukan sebaliknya, yakni dehumanisasi.

Umur pendidikan memang sudah setua umur umat manusia itu sendiri di muka bumi. Proses pendidikan juga telah mengalami perkembangan seiring dan sejalan dengan perkembangan masyarakat yang mengampunya. Dalam sejarah pendidikan, terjadi adanya perkembangan paradigma. Ada era yang disebut sebagai era ‘escole’ yang lebih alamiah dan batiniah. Era itu berubah menjadi era ‘school’ yang lebih mementingkan aspek akademis dan IPTEK. Ada proses pendidikan yang lebih mementingkan aspek kepribadian dan mental spiritual, ada proses pendidikan yang lebih mementingkan aspek akademis dan ilmu pengetahuan, dan ada pula proses pendidikan yang lebih mementingkan aspek keterampilan badaniah atau bodily kinesthetics. Bukankah semua itu diperlukan dalam kehidupan. Jawabannya ya, karena sesuai dengan kebutuhan kehidupan dalam masyarakat. Itulah sebabnya maka manusia perlu melahirkan adanya berbagai macam kebijakan pendidikan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat, tetapi tidak boleh melanggar kaidah dasar bahwa pendidikan merupakan proses humanisasi tersebut. Hal ini tercermin dalam rumusan tujuan pendidikan nasional dari masing-masing negara.

C. Penutup

Peran pendidikan yang begitu besar pada peradaban manusia, yaitu dengan munculnya ilmu pengetahuan yang begitu pesat, manusia dengan pada sisi ini menggunakan rasionalitas (akal) melalui media edukasi memberikan pencerahan bagi munculnya ilmu-ilmu pengetahuan baru. Pendidikan tersebut diselenggarakan baik formal maupun non formal, atau dengan melakukan research ilmiah terhadap persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Tentu keberhasilan pendidikan dalam merangsang minat tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan, tidak terlepas dari masyarakat sendiri.

Rohadi, Pendidikan yang Epistemologis, http://rohadieducation.wordpress.com, download tanggal 14 Januari 2009, pkl 20.00 WIB

Charles E. Skinner, Essentials of Educational Psychology, (Tokyo : Maruzen Company Ltd), P. 3

Sujana, Pendidikan Nonformal : Wawasan, Sejarah Perkembangan, Filsafat & Teori Pendukung, Serta Asas, (Jakarta: Fallah Production, 2004), hal. 3

Adjat Sudra, Pendekatan dalam Teori-Teori Pendidikan, http://adjatsoedra.blogdetik.com, download tanggal 14 Januari 2009 pkl. 20.00 WIB.

Suparlan, Dehumanisasi Pendidikan, http://www.suparlan.com, download tanggal 15 Januari 2009, pkl. 15.00 WIB

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: