jump to navigation

Manusia Makhluk Cerdas June 24, 2009

Posted by asepsbg in Pendidikan.
trackback
A. Pendahuluan

Berbicara tentang manusia tidak akan pernah habis dan selalu menarik, asumsi ini cukup rasional mengingat manusia sebagai ciptaan yang unik dan dalam bahasa agama sering diungkap sebagai ciptaan yang sempurna. Kesempurnaan itu bukan saja pada dimensi fisik dimana struktur tubuh dan anatomi manusia, secara psikis manusia diberi kelebihan ruh dengan akal sebagai given untuk hidup dan kehidupan manusia. Proses penciptaan manusia yang sempurna ini tentu sangat berbeda dengan penciptaaan lain, seperti binatang. Keistimewaan yang dimiliki manusia dengan beragam bentuk, warna kulit, karakterstik, minat, bakat dan lain sebagiannya membawa kesadaran tentang keadilan sang pencipta yang telah menciptakan sosok ciptaan yang sempurna.

Selain kestimewaan di atas, mengapa dipandang perlu untuk membicarakan tentang dimensi manusia dari berbagai sudut pandang yang berbeda, apakah selama ini timbul persoalan mendasar mengapa terma manusia tidak akan habis dibicarakan sepanjang manusia hidup dalam jagad raya ini. Selain itu apa hubungannya manusia dengan alam, binatang dan bahkan sesame manusia itu sendiri. Ada beberapa persoalan mendasar mengapa terma manusia selalu menjadi diskurses tanpa batas.

Pertama, bahwa manusia dengan kestimewaan akal telah mampu menembus peradaban yang spektakuler setelah melewati revolusi perdaban yang cukup lama. Kekuatan akal ini melahirkan daya cipta (nilai-nilai ketuhanan) manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Berbagai masterpiece telah dilahirkan manusia melalui akalnya, seperti penemuan telpon, listrik, pesawat, satelit, dan bahkan ruang angkasa. Bisa dikatakan dengan daya citpa yang tanpa batas (baca: manusia), manusia mampu menemukan problem-problem sosial yang harus dipecahkan dengan kekuatan akal, sehingga terwujud kemanfaatan yang baik untuk masyarakat itu sendiri.

Kedua, keistimewaan manusia dengan akalnya dan kemampuan daya ciptan yang luar biasa, ternyata menimbulkan sebuah ketakutan tersendiri bagi diri manusia, yaitu ketika akal berbicara dan mampu mencipta apakah selama itu manusia bebas dari nilai? Dan tidak mengindahkan sisi kemanfaatan bagi umat manusia yang lain. Fakta ini cukup rasional, melihat adanya kerusakan-kerusakan alam dan kekacaun manusia itu sendiri. Ketika manusia pertama kali menemukan sebuah benda yang maha kecil, yaitu atom itu merupakan penemuan yang spektakuler bagi manusia, akan tetapi muncul kekuatiran, jika atom ini dijadikan senjata pemusnah, maka habslah manusia. Sejarah berbicara banyak ketika atom dijadikan bahan peledak dan menimbulkan banyak korban bagi manusian. Belum lagi ditemukannya nuklir yang awalnya dimanfaatkan untuk kebutuhan tenaga listrik, ternyata dimanfaatkan juga untuk pembuatan bom, bias dibayangkan dengan dayanya yang sangat besar, makan kehancuran manusia dan bumi ini segera terjadi.

B. Pembahasan

Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa arabnya, yang berasal dari kata nasiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar al-uns yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Seperti dalam kenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki, kemampuan berfikir dan berfikir tersebut yang menentukan manusia hakekat manusia. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain. Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis, dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya dengan melengkapi sisi trasendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya.

Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam perfektif, ada yang mengatakan masnusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini dinyakini oleh para filosof. Sedangkan yang lain menilai manusia sebagai animal simbolik adalah pernyatakan tersebut dikarenakan manusia mengkomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia menafsirkan simbol-simbol tersebut. Ada yang lain menilai tentang manusia adalah sebagai homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja. Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”, seperti binatang ia memerlukan alam untuk hidup. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuh-kebutuhannya. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens, manusia arif memiliki akal budi dan mengungguli mahluk yang lain. Manusia juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens (mahluk yang senang bermain). Manusia dalam bermaian memiliki ciri khasnya dalam suatu kebudayaan bersifat fun. Fun disini merupakan kombinasi lucu dan menyenangkan. Permaianan dalam sejarahnya juga digunakan untu memikat dewa-dewa dan bahkan ada suatu kebudayaan yang menganggap permainan sebagai ritus suci.

1. Hakikat manusia menurut Islam

Manusia adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.

Dalam teori pendidikan lama, yang dikembangkan didunia barat, dikatakan bahwa perkembangannya seseorang hanya dipengaruhi oleh pembawaan (nativisme) sebagai lawannya berkembang pula teori yang mengajarkan bahwa perkembangan seseorang hanya ditentukan oleh lingkungannya (empirisme), sebagai sintesisnya dikembangkan teori ketiga yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungannya (konvergensi)

Manusia adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok, manusia yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash ayat : 77 :

“Carilah kehidupan akhirat dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadamu tidak boleh melupakan urusan dunia “

Manusia dalam pandangan Islam mempunyai aspek jasmani yang tidak dapat dipisahkan dari aspek rohani tatkala manusia masih hidup didunia. Manusia mempunyai aspek akal. Kata yang digunakan al Qur’an untuk menunjukkan kepada akal tidak hanya satu macam. Harun Nasution menerangkan ada tujuh kata yang digunakan :

  • Kata Nazara, dalam surat al Ghasiyyah ayat 17 :“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan”
  • Kata Tadabbara, dalam surat Muhammad ayat 24 :“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
  • Kata Tafakkara, dalam surat an Nahl ayat 68 :“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah : “buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, dipohon-pohon kayu, dan ditempattempat yang dibikin manusia”.
  • Kata Faqiha, dalam surat at Taubah 122 :“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”
  • Kata Tadzakkara, dalam surat an Nahl ayat 17 :“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”.
  • Kata Fahima, dalam surat al Anbiya ayat 78 :“Dan ingatlah kisah daud dan Sulaiman, diwaktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu”.
  • Kata ‘Aqala, dalam surat al Anfaal ayat 22 :“Sesungguhnya binatang(makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa-pun.
2. Landasan Moral dan Etika Bagi Manusia

Sebagaimana pembahasan di atas tentang manusia yang memiliki daya nalar dan pemberian akal yang menghadirkan banyak penemuan yang bermanfaat bagi umat manusia, tetapi di sisi lain adalah muncul persoalan tentang apakah aktualisasi akal dengan menghasilkan banyak budaya dan karsa itu bebas nilai atau tidak. Persoalan ini cukup menarik sejalan dengan perkembangan modernitas dengan sejumlah penemuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang satu sisi bermuatan positif bagi kehidupan manusia dan di sisi yang lain munculnya penyalahgunaan ilmu dan teknologi untuk berbagai kepentingan manusia.

Banyak peristiwa kemanusiaan terjadi dimana manusia menggunakan teknologi untuk perang, seperti bom, rudal, senjata pemusnah masal, nuklir dimana pada sisi ini, manusia menggunakan teknologi mutahir tersebut untuk menghancurkan manusia dan bangsa lain. Manusia dengan kekuatan akalnya mampu berkuasa di berbagai bidang sehingga dengan kekuasaan apa pun dapat diraih, tentu dengan dalih-dalih atau alibi untuk kepentingan bangsanya. Tercatat dalam sejarah (1945) bagaiamana Jepang hancur lebuh, di bom sekutu dan menewaskan banyak manusia dan yang terbaru adalah tragedy kemanusiaan adanya ageresi Israel ke Palestin yang tercatat lebih dari 1000 orang tewas akibat senjata-sejata pemusnah masal yang ditembakan secara membabi buta.

Dalam kontek ini terlihat, begitu dominan akal untuk mencapai tujuan tanpa mengindahkan nilai-nilai atau norma, hukum, adat, dan bahkan kesepakatan internasional tentang penggunaan sejata pemusnah masal yang dilarang dalam konvensi Genewa.

Dalam persfektif psikologi, manusia terdiri dari tiga unsur penting yaitu, Id, Ego, dan Superego, sedangkan dalam pandangan Islam ketiganya sering dipadankan dengan nafs amarah, nafs lawwamah, dan nafs mutmaninah. Ketiganya merupakan unsur hidup yang ada dalam manusia yang akn tumbuh berkembang seiring perjalanan dan pengalaman hidup manusia. Maka untuk menjaga agar ketiganya berjalan dengan baik, diperlukan edukasi yang diberikan orang tua kepada anaknya dalam bentuk pemberian muatan etika yang menjadi ujung tombak dari ketiga unsur di atas.

Maka seyogyanya moral dapat menjadi perisai manusia dalam meniptakan kedamaian di muka bumi ini, sehingga akal tidak menjadi tuhan bagi diri manusia. Moralitas tentu saja tidak dapat hadir secara instan, tapi membutuhkan edukasi bagi generasa yang tua kepada yang muda. Diantara pemberiaan edukasi etika kepada anak diarahkan kepada beberapa hal di bawah ini:

  1. Pembiasaan kepada hal-hal yang baik dengan contoh dan perilaku orang tua dan tidak banyak menggunakan bahasa verbal dalam mecari kebenaran dan sudah barang tentu sangat tergantung pada sisi historisitas seseorang dalam hidup dan kehidupan.
  2. Bila anak sudah mampu memahami dengan suatu kebiasaan, maka dapat diberikan arahan lanjut dengan memberikan penjelasan apa dan mengapa dan yang berkaitan dengan hokum kausalitas (sebab akibat) Pada masa dewasa, anak juga tidak dilepas begtu saja, peran orang tua sebagai pengingat dan pengarah tidak harus putus, tanpa harus ada kesan otoriter, bahkan mengajak anak untuk diskusi tentang pemahaman keberagamaan.
  3. Pada masa dewasa, anak juga tidak dilepas begtu saja, peran orang tua sebagai pengingat dan pengarah tidak harus putus, tanpa harus ada kesan otoriter, bahkan mengajak anak untuk diskusi tentang pemahaman keberagamaan.Pembiasaan kepada hal-hal yang baik dengan contoh dan perilaku orang tua dan tidak banyak menggunakan bahasa verbal dalam menyampaikan baik dan buruk sesuatu, manfaat dan mudharatnya, sesat dan tidaknya.

C. Penutup

Kekuatan akal manusia harus dimbangi dengan batasan norma baik agama, adat istiadat dan intuitif manusia itu sendiri. Karena akal sendiri yang berjalan akal melahirkan manusia robot yang tidak memiliki sisi kemanusiaan dan jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Makan langkah strategis yang harus dilakukan adalah bagimana penanaman nilai-nilai moral ini dapat diberikan sejak dini kepada anak yang diberikan orang tuan. Peran pendidikan sangat mempengaruhi anak dalam perkembangnnya dan pada nantinya dapat melahirkan generasi yang utuh, yaitu  generasi yang dapat menoptimalkan akalnya untuk kepentingan umat manusia dan menjadikan nilai-nilai moral sebagai landasan penyeimbang dari akal tersebut.

Ilmu Pendidikan dan persfektif Islam, http://ponpes.tebuireng.net/download tangal 13 Januari 2009

Ahmad Mudlor, Etika Dalam Islam, (Surabaya : Al-Ikhlas), hal.  155

Qomarudin Hidayat, Etika Dalam Kitab Suci Dan Relevansinya Dalam Kehidupan Modern Studi Kasus Di Turki, (Jakarta : Paramadina), dalam kumpulan artikel Yayasan Paramadina, www.paramadina.com download tanggal 10 Januari 2008.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: