jump to navigation

Islam dan Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer June 24, 2009

Posted by asepsbg in Islam.
Tags:
trackback

Islam dan Teologi Pembebasan

Asghar Ali Engineer

Pendahuluan

Perbincangan tentang agama (religion) tidak akan pernah terputus, bahkan terus berkembang seiring dengan situasi dan kondisi manusia yang menjadikannya sebagai pedoman (way of life) dan bahan studi di berbagai kalangan. Perbincangan selama ini  adalah cara pandang manusia terhadap agama itu sendiri dan mengamlkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Wacana klasik sering menempatkan agama sebagai suatu yang absolute tentang kebenaran hidup dan kehidupan dan menempatkannya suatu yang sakral, untouchable dengan berbagai alasan, dan cara memahaminya secara doktriner, sehingga terkesan kaku tidak menciptakan ruang atas ranah kritis manusia.

Agama juga disikapi sebagai suatu yang given dan lebih menonjolkan sisi hubungan manusia dengan Tuhan (worship), dari pada ranah sosial. Kehadiran pemikir kontemporer, seperti Hasan Hanafi, Fazlul Rahman, Muh. Arqun, dan Asghar Ali Engineer yang akan dibahan pemikirannya dalam tulisan ini, melihat bahwa pendekatan kepada Agama pada masa klasik telah mengakibatkan kejumudan berfikir kaum muslim yang sudah jauh tertinggal dengan non muslim dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Pada saat ini muncul lontaran pemikiran bahwa diperlukan metodologi dalam memahami dan memahamkan agama, yaitu harus ada perimbangan terhadap sisi normativitas  agama dengan tidak melupakan sisi historisitas agama. Cara pandang normativitas adalah pemahaman agama yang lebih berorietasi pada hubungan manusia dengan Tuhan dan terfokus pada kajian teks dengan tidak mengedepankan sisi rasionalitas. Sedangkan historisitas, adalah bagaimana memahami agama dan teks yang ada dengan melihat sisi-sisi historis yang melatarbelakanginya, atau gejala-gejala sosial kultural yang melingkupinya.

Pembaharuan pemikiran ini muncul sebagai kegelisahan pemikir kontemporer yang melihat realitas keberagamaan umat Islam yang telah lama terkungkung dalam kejumudan, maka lontaran pemikiran di atas menjadi sebuah revolusi teologis menuju teologi transformative untuk menjawab realitas kekinian. Pemikiran inilah yang menjadi concern Asghar Ali Engineer, seorang pemikir dari India untuk melakukan perubahan fenomenal dari carapandang dan sikap kaum muslim dalam beragama. Gerakan ini dimulai bukan saja dengan tulisan-tulisan tentang perlunya pembebasan teologi, tapi juga Asghar Ali lakukan dengan membentuk lembaga yang secara aktif mengkampanyekan perlunya perubahan pemikiran dikalangan muslim yang lebih adaptif dan transformatif.

Bagi Asghar Ali Ada beberapa alasan mengapa diperlukan pembenahan terhadap teologi menuju pembebasan, diantaranya pertama bahwa dalam kurun waktu yang cukup lama teologi menjadi suatu yang status quo, stagnan, dan tidak memberikan kontribusi terhadap kemajuan berfikir kaum muslimin, kedua, sekian lama juga teologi dijadikan alat bagi penguasa dalam melanggengkan kekuasaan dengan atas nama agama, ketiga teologi sering dijalankan hanya pada ranah metafisik dan tidak menyentuh sisi subtansi keadilan, kedamaian, kemakmuran bagi kaum muslimin, bahkan justru menjadi jalan bagi halalnya radikalisme dan penindasan.

Lontaran pemikiran Asghar Ali ini tidak serta merta muncul  begitu saja, melainkan adanya pengamatan terhadap realitas yang terjadi, khususnya di India, Negara dimana ia tinggal, terdapat gejolak sosial yang luar biasa dimana agama-agama tersebar, dan secara teologis mengusung semangat ketuhanan, tetapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan esensi kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Dia melihat begitu hebat pergesekan (konflik) kelompok masyarakat yang mengatasnamakan agama dan banyak menelan korban. Selain itu juga realitas adanya struktur sosial yang mengenal kelas di India sangat menghambat bagi hak-hak warga Negara untuk mendapatkan hidup yang layak. Sehingga menurut hemat penulis, lontaran gagasan tentang teologi pembebasan merupakan suatu yang fenomenal dan mendekontruksi pemikiran traditional-teologic dengan melakukan upaya aktif melalui berbagai gerakan-gerakan perspektif Teologi Pembebasan yang menuntut perubahan struktur sosial yang tidak adil dan menindas.

Sekilas tentang Asghar Ali Engineer

Asghar Ali Engineer lahir tahun 1940, mendapatkan gelar BSc Teknik Sipil dari UnivesitasVikram. Asghar Ali mengajar di beberapa perguruan tinggi di Amerika, Kanada, Eropa, Asia Tenggara, Australian dan beberapa Negara lain seperti perguruan tinggi di Prancis, Jerman, Inggris (termasuk Oxford dan Cambridge ), Swiss, Australia, Italia, Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia dan sebagainya.  Dia adalah sosok yang concern pada Islam, hak Perempuan dalam Islam, Islam dan Teologi Pembebasan, masalah kemasyarakatan di Asia Selatan, negara Islam dan sebagainya. Ali Asghar merupakan sosok yang liberal dan rasional dalam studi Islam dan cukup dikenal secara internasonal reputasinya, kiprahnya dalam melakukan pembebasan teologi dalam Islam.

Bukan saja teori yang dikampanyekan, tapi Asghar Ali terjun langsung dengan mendirikan Centre for Study Siciety and Secularism (CSSS) yang dimulai sejak tahun 1993 dengan tujuan 1) Menyebarkan semangat sekularisasi dan perdamaian kehidupan bermasyarakat, 2) melakukan studi terhadap phenomena yang berkembang dalam masyarakat dan sekularisasi, 3) membentuk ruang dialog antar umat beragama demi keadilan. Pusat ini melahirkan beberapa program diantaranya, Seminar, Peringatan Sekularisasi di India setiap lima tahun, workshop, camping bagi pumuda muslim, Penelitian, dll.

Asghar Ali Engineer, juga menulis makalah tentang Islam dan Hak Asasi Manusia dengan judul “Membangun teologi damai dalam Islam” , makalah lainnya “Konsep Keteladanan dalam Islam” Juga mempublikasikans tulisannya dalam buku tentang Pendekatan Rasional dalam Islam. Dia merupakan pendiri lembaga AMAN (Asian Muslim Action Network), lembaga yang concern dalam memproklamirkan hak-hak asasi manusia dan Pemahaman lintas agama, khususnya di kawasan Asia.

Dia adalah pendiri Ketua AMAN (Asian Muslim Action Network) yang mempromosikan hak asasi manusia dan pemahaman antar-iman di tingkat Asia. Dia telah melakukan lokakarya bagi kalangan muda muslim dengan mengenalkan pentingnya HAM dan pemahaman lintas agama. Dia juga menjabat sebagai direktur studi Islam yang mempromotori penelitian dan studi HAM, hidup damai tanpa kekerasan. Selain itu juga dikenal sosok gigih dalam mempertahankan budaya damai, tanpa kekerasan. Bukan saja teori yang disampikan, tapi juga terjun langsung memkampanyekan nilai-nilai prinsip yang dia anut.

Engineer Ali memegang teguh prinsip sekelarisasi dan nilai-nilai demokrasi, oleh karenanya dia mendaptkan banyak penghargaan, diantaranya pemerintah India pernah membeberikan penghargaan “Communal Harmony Award” tahun 1997, Joshi inter-faith award oleh Organinasi Kristiani di Tamil, kemudian tahun 2004 Right Livelihood Awards 2004 yang keluarkan lembaga Right Livelihood Awards Stockholm Swedia sebagai sosok yang mampu menjawab realitas saat ini.

Islam dan Teologi Pembebasan

Pada awalnya banyak pertanyaan dimunculkan mengapa pembacaan ulang terhadap teologi diperlukan dan harus dibebaskan,dibebaskan dari apa dan bagimana membebaskannya, bukankah selama ini teologi sering dipahami sebagai suatu yang terikat, berdiri sendiri dan tidak mempunyai ruang bagi kebebasan manusia untuk memenuhi kepentingan dan hajat hidup. Asghar Ali melihat  bahwa diperlukannya teologi pembebasan dengan berbagai alasan, pertama dimulai dengan melihat kehidupan dunia dan akhirat, kedua teologi tidak menginginkan status quo keberpihakan kepada golongan kaya yang berhadapan dengan golongan miskin, ketiga, teologi pembebasan berperan sebagai pembela hak-hak kaum tertindas, keempat bahwa teologi pembebasan tidak hanya mengakui konsep metafisis dalam persoalan takdir, tapi juga memberikan ruang kepada manusia untuk menentukan takdirnya sendiri

Selama ini umat Islam telah banyak disibukan dengan perdebatan klasik tentang teologi dan banyak merugikan umat Islam itu sendiri.  Dalam kontek sejarah, permbincangan tentang teologi pada zaman Nabi dan al-khulafa Arrosyidun nyaris tidak terdengar, pada masa ini manusia berjalan dan bekerja dengan penuh keyakinan meraih tujuan  dan kehendap Tuhan adalah sebagai titik puncak inspirasi bagi keberhasilannya. Akan tetapi perbincangan ini mencuat ketika kaum muslimin berhadapan dengan hadirnya kekuasaan. Puncaknya pada masa pemerintahan bani Ummayah terjadi pergulatan dua pemaknaan teologi antara kehendak bebas (free will) dan ketundukan pada taqdir (pre-determinasi). Maka guna melanggengkan kekuasaan pembacaan teologis lebih pada ketundukan kepada taqdir dan bersebrangan dengan pengikut Ali (Syiah) yang lebih mengedepakan teologi kehendak bebas (free will). Persinggungan ini melahirkan banyak tragedi berdarah dan suramnya wajah umat Islam.

Asghar Ali juga melihat bahwa setelah wafat Nabi, Agama menjadi sesuatu yang mapan (status quo), bahkan para ulama pada masa-masa ini lebih disibukan dengan menuliskan masalah-masalah furu`iyah dan Syariat dengan tidak mengexplore nilai-nilai subtantif bagaimana Islam dapat memberikan pembebasan terhadap kaum lemah, kaum tertindas dan menciptakan keadilan dan kedamaian bagi umat beragama. Padahal jika menengok Kembali kepada perjuangan Nabi, bahwa semangat keadilan dan keberpihakan kepada kaum mustadafin dilakukan dengan revolusi besar-besaran dalam dakwanya. Pertama, Nabi memberikan pemahaman tentang pentingnya pengetahuan membaca dan menulis untuk keberlangsungan bangsa arab yang sejak lama terkungkung dengan kebodohan dan keterbelakangan, kedua Nabi juga meletakan asas perdamaian terhadap suku-suku yang seja lama bersebrangan untuk hidup berdampingan, ketiga Nabi juga meletakan asas kemandirian ekonomi masyarakat arab dengan berniaga, keempat bagimana Nabi memberikan penghargaan kepada kaum wanita yang selama itu tidak dihargai dan membebaskan perbudakan yang telah merajalela akibat exploitasi kaum kaya, kelima dalam sistem politik, Nabi meletakan proses-proses demokrasi dengan mengedepankan asas musyawarah dalam pengambilan keputusan. Maka jika melihat begitu besar revolusi yang dilakukan nabi, dapat dikatakan bahwa Nabi adalah sang pembebas. Dalam konsep keadilan dan kesejahteraan, Nabi telah jelas menganjurkan kepada orang-orang kaya untuk memberikan sedikit hartanya dan mengecam saudagar-saudagar kaya yang menumpuk-numpuk harta, namun kikir tidak mau berbagi dengan sesama.

Sebenarnya Islam adalah agama yang meletakan prinsip persaudaraan universal, kesetaraan dan keadilan sosial. Pada prinsip ini, Islam menekankan kesatuan manusia (unity of mankind) sebagaimana tercantum dalam al-Qur`an (5:8). Dalam ayat ini sungguh jelas membantah semua konsep superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan atau keluarga, dengan satu penegasan dan seruan akan pentingnya kesalehan baik secara ritual, juga lebih secara sosial. Dalam kontek ayat ini juga, Islam sangat menekankan semangat keadilan di semua aspek kehidupan, keadilan dimaksud adalah dengan membebaskan kaum lemah dari tirani penindasan dan keterpurukan dan memberikan kesempatan mereka untuk memimpin.

Sebagaimana konsep pokok dalam teologi Islam adalah tauhid yang dalam rangka mengembangkan struktur sosial yang membebaskan manusia dari segala macam perbudakan. Konsep tauhid dalam teologi pembebasan menafsirkan tauhid bukan hanya sebagai keesaan Tuhan, namun juga sebagai kesatuan manusia (unity of mankind) dan tidak akan pernah terwujud tanpa terciptanya masyarakat tanpa kelas. Maka dari itu, tauhid merupakan iman kepada Allah yang tidak bias ditawar pada satu sisi, dan konsekuensinya adalah menciptakan struktur yang bebas dari eksploitasi di sisi yang lain.

Dalam teologi Islam juga dikenal adalah iman yang berasal dari kata dasar amana, berarti selamat, damai, perlindungan, dapat diandalkan, terpercaya dan yakin. Orang yang beriman adalah orang yang dapat diandalkan untuk memberikan kedamaian dan kemananan pada dirinya sendiri dan juga orang lain, orang beriman menjungjung tinggi nilai keadilan dan keberpihakan kepada struktur lemah akibat penindasan. Iman yang  hadir bukan dalam bentuk keyakinan yang irrasional, melainkan kayinan dibarengi dengan penggunaan akal fikiran (rasio) secara maksimal. Keyakinan yang didasari pada rasionalitas, sungguh telah banyak disebutkan dalam al-qur`an sebagai  ulul al-bab atau ulul absar, yaitu orang yang berfikir dan berilmu pengetahuan.

Mengenaik keyakkinan kepada al-ghaib seperti yang tercantum dalam al-Qur`an (1:2), jika ayat ini dipahami bahwa al-ghaib merupakan potensi-potensi metafisis yang berada dalam jangkauan manusia,  maka akan menimbulkan ketidakmampuan manusia untuk menggapai potensi-potensi tersebut dan mengakibatkan keputusasaan manusia dalam hidupnya. Maka manusia yang putus asa atau hilangnya semangat (Pesimisme) untuk menggapai kehidupan yang lebih baik, karena tida memiliki keyakinan yang kuat sangat dikecam oleh Allah. Dalam teologi pembebasan yang terpenting adalah teologi yang berorientasi perjuangan. Perjuangan dalam mengentaskan manusia dari keputusasaan menuju hidup yang produktif, sebagaimana firman Allah dalam surat (3:146)

Penutup

Pemikiran Asghar Ali tentang teologi pembebasan merupakan kupasan yang cukup merangsang nalar berfikir dan membuka pintu ijtihad untuk melakukan pemaknaan ulang tentang pemahaman kaum muslim terhadap teologi yang selama ini menjadi problem tumbuhnya ketidakmampuan kaum muslim untuk mengembangkan potensi-potensi diri menuju kesejahteraan. Teologi yang selama ini bersifat kaku dan mapan harus dibebaskan dengan memberikan kesempatan manusia untuk menemukan kebahagian di dunia dan akhirat. Teologi yang banyak dipahami juga melahirkan radikalisme atas nama agama yang banyak membuat kesengsaraan bagi umat manusia. Teologi pembebasan bersumber pada keadilan (al-adl) dan kebajikan (ihsan) sebagai manifestasi atas keyakinan. Asghar Ali yakin bahwa sebetulnya agama tidak akan melahirkan dogma,  dogma lahir dari produk budaya manusia yang ingin melanggengkan keyakinan. Oleh karenanya Asghar Ali, jika ingin umat ini kembali menemukan momentum, maka lihat bagimana perjuangan Nabi dalam membebasakan seluruh aspek kehidupan manusia.

http://andromeda.rutgers.edu/~rtavakol/engineer/, diakses pada tanggal 01 Desember 2008, pkl. 12.00

http://www.csss-isla.com/aboutus.php diakses pada tanggal 01 Desember 2008, pkl. 12.00

Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, terj. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hlm. 1

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: